Patut disadari setiap orang Kristen lahir baru!! – TERNYATA Alkitab melarang kita menghakimi JIKA…

Konsekuensi (dampak) logis diciptakannya manusia sebagai makhluk yang berkepribadian (memiliki akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas) adalah munculnya perbedaan pola pikir (sudut pandan…

Source: Patut disadari setiap orang Kristen lahir baru!! – TERNYATA Alkitab melarang kita menghakimi JIKA…

time

Masih mengatakan Allah Tritunggal tidak logis? Anda wajib membaca ini (Sudut pandang Sains)…

Ruang, Waktu, dan Materi
Ruang-waktu (Spacetime)
Virtual Partikel, Waktu,. . . dan Trinitas

trinitas
Ilustrasi Alkitab bahasa Asli yang menyatakan bahwa memang Sang Pencipta adalah 3 In 1

Oleh: Dr. Jason Lisle                                                Diterjemahkan: Ev. Supriyanto, S. Th

Ruang, waktu, dan materi merupakan contoh dari “tiga-di dalam-satu (3 in 1)” di alam. Mungkin Tuhan menciptakan mereka sedemikian untuk menyatakan sifat Tritunggal-Nya sendiri.
Banyak orang tidak menganggap Tuhan menciptakan ruang kosong, meskipun Ia telah melakukannya! Ruang bukanlah “bukan apa-apa (Nothing)”; Ruang adalah sesuatu, seperti halnya awan dan pohon adalah sesuatu. Ini memiliki permulaan dan oleh karena itu (ia) diciptakan oleh Tuhan (Yohanes 1: 3).
Jika memang “ruang” itu sesuatu yang benar-benar tidak ada, maka kita tidak akan mampu mengukurnya. Ketika saya mengukur volum suatu ruang “kosong”, (maka) saya benar-benar mengukur jumlah (kuantitas) ruang di dalamnya.

3 DIMENSI RUANG

Ruang bukanlah suatu ‘ketiadaan’. Ia memiliki tiga dimensi – lebar, panjang, dan tinggi. Ketika sebuah objek (benda) bergerak, ia bergerak melalui tiga dimensi ruang tersebut. Ruang (juga) memiliki sifat. Sebagai contoh, ia memiliki tiga dimensi. Ini berarti bahwa saya dapat bergerak melewati ruang dalam tiga cara tersendiri (ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan, maju dan mundur). Setiap gerakan yang lainnya merupakan kombinasi-kombinasi dari tiga arah ini. Sangat mungkin Tuhan membuat ruang tiga dimensi untuk mengingatkan kita tentang sifat alami Tritunggal-Nya. Allah adalah TIGA (dalam pribadi), tetapi SATU (dalam sifat). Demikian pula, ruang TIGA (dalam dimensi) dan SATU (dalam sifat).

Allah juga menciptakan waktu. Waktu memiliki permulaan (Kejadian 1: 1), oleh karena itu ia memerlukan Pencipta. Waktu hanya memiliki satu dimensi, namun kita merasakan waktu dalam tiga divisi (bagian): masa lalu, sekarang, dan masa depan. Jadi waktu, sebagaimana ruang, adalah semacam tiga-dalam-satu (3 in 1), dan mengingatkan kita tentang sifat dasar Tritunggal Allah. Meskipun kita memiliki kebebasan bergerak di dalam ruang, kita hanya bisa bergerak di dalam waktu; kita mengingat masa lalu, mengalami masa kini, dan mengantisipasi masa depan. Karena Allah sendiri berada di luar waktu, maka hanya Allah yang bisa mengetahui masa depan. Kita tentu dapat membuat prediksi yang wajar (masuk akal) tentang masa depan dalam beberapa kasus, tetapi hanya Allah yang tidak mungkin keliru dalam memprediksi kejadian masa depan tertentu. Yesaya 46: 9-10 mengatakan bahwa tidak ada orang lain yang seperti Allah yang seorang diri menyatakan (tentang) akhir dari permulaan, dan dari zaman-zaman kuno hal-hal yang belum dilakukan.

Sifat Ruang-Waktu (Spacetime)
Einstein pernah menunjukkan bahwa ruang dan waktu saling bergantung. Artinya, ruang dan waktu keduanya adalah bagian dari struktur tunggal, yang kita sebut ruang-waktu (Space time). Einstein menyadari bahwa pengukuran kita mengenai jarak dalam ruang dan interval waktu dipengaruhi oleh gerak (ini terutama jelas sebagai salah satu pendekatan kecepatan cahaya). Namun demikian, pengukuran kita mengenai interval dalam ruang-waktu tidak terpengaruh oleh kecepatan.

 

3 DIVISI WAKTU
Masa lalu, sekarang, dan masa depan adalah tiga bagian (divisi) waktu. Waktu mengikat manusia di masa kini (sekarang) hanya dengan kenangan di masa lalu dan harapan di masa depan. Hanya Allah yang berada di luar waktu. Dia adalah kekal, melihat masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.
Menurut fisika kuantum, di skala yang sangat kecil, ruang-waktu terus-menerus memproduksi dan menghancurkan partikel yang bermassa sangat kecil yang disebut “partikel-partikel virtual.” Terkadang pihak non-Kristen akan berpendapat bahwa partikel-partikel virtual tersebut menunjukkan bahwa sesuatu dapat muncul dari ketiadaan. Tetapi semoga saja sekarang menjadi jelas bahwa partikel-partikel ini tidak menunjukkan hal tersebut. Partikel-partikel virtual yang dihasilkan dari ruang-waktu tersebut tidaklah berasal dari “bukan apa-apa (nothing)”.
Objek-objek (benda) material membutuhkan ruang-waktu untuk eksis. Setiap objek fisik memiliki suatu lokasi di dalam ruang dan waktu. Jadi, di satu pengertian, ruang-waktu semacam kotak dengan benda-benda fisik yang terletak di dalamnya. Namun, Einstein menemukan bahwa setiap objek fisik (massa) mendistorsi (mengubah) jaringannya. Material “membelokkan” ruang-waktu, dan ruang-waktu memberitahu materi bagaimana untuk bergerak.)

3 JENIS PARTIKEL
Bahkan partikel-partikel atom pun berbicara tentang sifat alami Tritunggal Allah. Semua atom, kecuali hidrogen, terdiri dari proton, neutron, dan elektron. Materi terdiri dari atom. Hebatnya, atom juga memiliki sifat tiga-dalam-satu (3 in 1). Mereka terdiri dari tiga jenis partikel – (yaitu) proton, neutron, dan elektron (kecuali hidrogen, yang biasanya tidak memiliki neutron). Proton dan neutron juga masing-masing terdiri dari tiga partikel yang lebih kecil yang disebut quark. Sangat menarik ketika beberapa orang menolak trinitas pada prinsipnya, sambil secara serempak menerima banyak contoh tiga-dalam-satu (3 In 1 – Trinitas) yang kita lihat di dalam sifatnya. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa Tuhan berkata, “. . . dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” (Roma 1: 18-20).
Alkitab mencatat bahwa, pada permulaan (waktu), Allah menciptakan langit (ruang) dan bumi (materi). Jadi alam semesta itu sendiri adalah tiga-dalam-satu (3 In 1 – Trinitas), sehingga mencerminkan sang Pembuat nya. Logisnya, cara alam semesta yang teratur berperilaku demikian juga merupakan sebuah cerminan dari Dia yang membuatnya dan menopangnya dengan firman kuasa-Nya (Ibrani 1: 3).

Note:
1. Ada beberapa hal yang penerjemah tambahkan dalam bentuk tanda kurung hanya dengan tujuan memberi opsi2 terjemahan dengan kata yang lebih sederhana.
2. Judul aslinya adalah “Spacetime – Virtual Particles, Time, . . . and the Trinity”, https://answersingenesis.org/physics/spacetime/
3. Anda dapat mengetahui dan mengikuti informasi terkini dan berbagai pengajaran di dalam Alkitab yang dikupas secara komprehensif dan sistematis melalui situs: http://www.graphe-ministry.org atau http://www.kopastumudagits.wordpress.com.

 

Ev. Supriyanto adalah Penginjil utusan GBIA Graphe (www.graphe-ministry.org) yang melayani disekitar wilayah Jawa Tengah:
Magelang – Temanggung – Jogjakarta – Purworejo / Kutoarjo

Hubungi: 082254134845 / WA 088216038274 – 532BBA92
(untuk informasi lebih mengenai hal-hal seputar Alkitab dan pengajaran Kekristenan)

Patut disadari setiap orang Kristen lahir baru!! – TERNYATA Alkitab melarang kita menghakimi JIKA…

 

images 1

Konsekuensi (dampak) logis diciptakannya manusia sebagai makhluk yang berkepribadian (memiliki akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas) adalah munculnya perbedaan pola pikir (sudut pandang) pada masing-masing individu. Hal ini tentu dipandang sangat baik oleh Allah (sebagai pencipta) maupun manusia itu sendiri. Allah ingin disembah oleh ciptaannya dengan tindakan se-murni[1] mungkin dari manusia dan manusia lebih memilih/bahagia diciptakan sebagai makhluk bebas (berpikir, berperasaan, dan bertindak) daripada diciptakan seperti robot.

Perbedaan pola pikir ini kemudian menimbulkan berbagai macam pengajaran (doktrin) yang satu sama lainnya tidak sepaham (dengan kata lain ‘saling bertentangan’). Sebagian orang Kristen yang berpikir kritis dan logis segera merenung dan berkesimpulan bahwa kebenaran yang sejati (kebenaran dari Allah pencipta) pasti HANYA satu dan tidak mungkin “2 hal yang berbeda, sama-sama benar”. Atas dasar kesimpulan itulah orang-orang Kristen yang bertujuan mencari kebenaran saling menyatakan pendapatnya dalam wadah ‘diskusi/perdebatan’.

Tentu, tidak semua orang Kristen yang terlibat dalam diskusi/perdebatan memiliki tujuan mencari kebenaran. Ada juga yang bertujuan melakukan ‘pembenaran’ (mereka yang sudah terbukti salah namun berkelit sambil mencomot ‘sepotong’ ayat Alkitab yang bisa “menghindarkan” nya dari rasa ‘malu’). Berdasarkan pengalaman, penulis beberapa kali mendapati sikap demikian ketika sedang berdiskusi Alkitab dengan beberapa kelompok denominasi Kekristenan. Ketika penulis menunjukkan kesalahan pengajaran (doktrin) mereka berdasarkan Alkitab, (mungkin karena sudah merasa tidak punya argumen lagi untuk menyanggah) segera mereka mengakhiri diskusi dan berdalih: “Jangan menghakimi!” atau “jangan suka menghakimi orang lain, lihat diri kita sendiri dulu!” atau bahkan “kata Alkitab, kita tidak boleh (dilarang) menghakimi! – sambil menyebut Matius 7:1”.

Benarkah Alkitab melarang kita (orang percaya) untuk menghakimi? Hal inilah yang membuat penulis merasa perlu untuk membagikan hasil penyelidikan penulis di dalam Alkitab dalam hal ‘menghakimi’. Setelah penulis telusuri, TERNYATA Alkitab memang ada melarang kita untuk ‘menghakimi (misalnya Mat. 7:1)’. Tetapi jika ditelusuri lebih lanjut pada ayat tersebut, TERNYATA tidak semua bentuk penghakiman dilarang melainkan hanya pada konteks tertentu. Konteks apa itu? Sebelum menjawabnya, penulis lebih perlu untuk menjelaskan terlebih dahulu, apa makna kata “menghakimi”.

  1. Makna kata “Menghakimi”

Banyak orang Kristen ‘kurang sempurna’ dalam memahami makna kata ‘menghakimi’. Banyak dari mereka mengidentifikasikan kata ‘menghakimi’ pada aspek negatif saja. Biasanya ketika ditanya apa yang anda pahami tentang ‘penghakiman’, banyak dari mereka akan menghubungkannya dengan ‘penghukuman’. Padahal, makna ‘penghakiman’ lebih luas dari sekedar ‘penghukuman’. Hal ini dapat dibuktikan dari Alkitab sendiri yang mendefinisikannya.

Kata “menghakimi” berasal dari kata Yunani Krino (Cth: Luk. 22:19; Yoh. 5:30; Yoh. 8:15, 16 dll). Selain diterjemahkan dengan kata “menghakimi” kata Krino juga dapat diterjemahkan dengan kata “memutuskan” (Luk. 12:57 – Krinete; Kis. 20:16 – Ekrine; 1 Kor. 2:2 & Kis. 25:25 – Ekrina), “mempertimbangkan” (1 Kor. 10:15 – Krinate, – dengan bentuk imperative diterjemahkan “pertimbangkanlah”), “berpendapat” (Kis. 3:13 – Krinantos; Luk. 7:43 – Ekrinas), “menganggap” (Roma 14:5 – Krinei), “memeriksa” (Luk. 23:14 – AnaKrinas), “menyelidiki” (Kis. 4:9 – AnaKrinontes), “menilai” (1 Kor. 2:14 – AnaKrinetai), “menghukum” (Mat. 12:41 – KataKrinousin), atau BAHKAN  “mengeritik” (1 Kor. 9:3 – AnaKrinousin). Jadi, makna kata “menghakimi” yang berasal dari kata Krino (Yunani) sebenarnya memiliki makna yang luas (bukan sekedar “menghukum”), seperti “mempertimbangkan”, “memutuskan”, “memeriksa”, “berpendapat”, “menilai”dan “mengeritik”. Intinya, menghakimi adalah suatu tindakan untuk menilai sesuatu. Penilaian tersebut bisa dalam bentuk “memeriksa”, “berpendapat”, atau “mempertimbangkan”. Dan, sebenarnya kata “penghakiman” tidak persis sama dengan kata “penghukuman”. Kata “penghakiman” hanya dapat disamakan dengan kata “penghukuman” dalam konteks tertentu. Misalnya, Roma 3:5-6 menjelaskan bahwa Allah akan menghakimi dunia dengan murka-Nya (dengan penghukuman) – hal ini berlaku karena mereka (dunia) tidak percaya pada pemberitaan Allah di dalam Alkitab.

Nah, singkat saja, jika ada orang yang menyatakan bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi” maka sama saja ia berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh berpendapat, tidak boleh menilai sesuatu apapun, atau tidak boleh mempertimbangkan apapun”. Justru, orang Kristen semestinya boleh bahkan harus menghakimi. Hal ini ditekankan oleh Rasul Paulus ketika mengajarkan bahwa “manusia rohani menilai segala sesuatu,” (1 Kor. 2:15). Menilai segala sesuatu sama dengan MENGHAKIMI segala sesuatu. Bayangkan JIKA sama sekali tidak boleh ada penghakiman: maka tidak pernah ada bentuk-bentuk pendisiplinan (baik di Gereja maupun organisasi lain), pemuridan (baik di Gereja maupun organisasi lain), bahkan tidak mungkin ada perbedaan antara yang BAIK dan JAHAT.[2]  Lalu, jika boleh atau bahkan harus menghakimi, bentuk “penghakiman” atau “penilaian” seperti apakah yang dikehendaki Tuhan? (bagian ini akan penulis bahas pada bagian nomor 3) sebelum menjawab hal itu, penulis terlebih dahulu akan membahas APA BENTUK PENGHAKIMAN YANG ALKITAB LARANG? Berikut ulasannya:

  1. Alkitab melarang untuk MENGHAKIMI jika TERNYATA mengandung unsur MUNAFIK

Salah satu prinsip terpenting yang tidak boleh dihilangkan dalam menafsir (memahami) Alkitab adalah HARUS selalu memperhatikan konteks. Karena kebanyakan pihak mengutip (sekaligus men-salah artikan) Matius 7:1, maka penulis akan membahas perikop tersebut.

Mat. 7:1-5 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, hal-hal yang dapat dianalisis adalah: (1). Apakah ayat tersebut melarang SEGALA jenis PENGHAKIMAN? (tentu tidak!) (2). Ayat tersebut melarang kita untuk menghakimi JIKA kita tidak siap/mau dihakimi juga (perhatikan kata ‘Supaya’).  Nah, JIKA kita sendiri siap dihakimi (menurut ukuran yang sama – perhatikan ayat 2) juga? (Tentu tidak dilarang!) Tuhan mau supaya ketika orang percaya SIAP menghakimi orang lain maka ia sadar juga dirinya perlu SIAP dihakimi menurut ukuran yang sama. Misalnya, ada orang Kristen menghakimi bahwa pengajaran “Saksi Jehovah” adalah sesat. Jika ditanya, mengapa anda mengatakan “Saksi Jehovah” sesat? (karena mengajarkan pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab – misalnya Yesus bukan Tuhan/Allah). Jika anda memegang prinsip tersebut, maka anda juga harus SIAP dihakimi pihak lain yang mungkin akan mengatakan juga pengajaran anda SESAT berdasarkan Alkitab. Penulis pernah berdiskusi dengan seorang Kristen. Ketika penulis menyatakan suatu pengajaran tertentu TIDAK SESUAI dengan Alkitab, beliau langsung berseru: “Jangan sembarangan menghakimi. Pengajaran sesat itu kalau mengajarkan Yesus bukan Tuhan, seperti Saksi Yehovah”. (dengan ekspresi terheran-heran) – karena tidak mau mempermalukan beliau dihadapan beberapa orang, penulis tidak frontal men-Skak[3]  beliau. Penulis (dalam hati) bisa saja bertanya kepada beliau, “Apa dasar anda mengatakan Saksi Jehovah sesat?” beliau pasti akan berkata, “karena mengajarkan Yesus bukan Tuhan, sedangkan Alkitab mengajarkan Yesus adalah Tuhan/Allah”. Maka penulis dapat katakan langsung, “Jika anda bisa menghakimi Saksi Yehovah dengan kata sesat berdasarkan Alkitab, mengapakah saya tidak boleh menghakimi anda menurut ukuran yang sama (yaitu Alkitab)?”. Sikap demikian yang tidak Tuhan kehendaki. Jika kita mau mengoreksi pihak lain, maka semestinya kita juga mempersilahkan orang lain mengoreksi kita. – Paulus mengingatkan sebagian jemaat Roma yang menghakimi orang lain bahwa jika mereka MELAKUKAN KESALAHAN pada sesuatu yang sama maka akan dihakimi juga dengan ukuran yang sama (Rom. 2:1). Jadi, Jika kita tidak SIAP dihakimi maka jangan menghakimi. Tetapi jika SIAP dihakimi maka sah-sah saja menghakimi. (3). Alkitab melarang kita (orang percaya) menghakimi secara MUNAFIK (perhatikan ayat 3-5). Tuhan tidak menghendaki kita bertindak HANYA ingin ‘membongkar’ kesalahan orang lain sebagai suatu bentuk penghakiman, tetapi diri kita sendiri malah melakukan kesalahan yang sama atau bahkan kesalasahan yang lebih besar lagi.

Dengan demikian, maka bentuk penghakiman yang tidak Tuhan kehendaki HANYALAH  yang bersifat MUNAFIK. Dan sebenarnya, Alkitab penuh dengan perintah kepada orang Percaya untuk melakukan “penilaian”, “pengujian”, “pertimbangan”, atau “pemeriksaan”. Dengan kata lain perintah untuk “menghakimi”. Nah, bentuk penghakiman seperti apakah yang Tuhan kehendaki orang Percaya untuk lakukan? Berikut ulasannya:

  1. Tuhan menghendaki semua bentuk penghakiman asalkan dilakukan dengan ADIL, OBJEKTIF dan di dalam KEBENARAN.

Singkat saja, banyak orang Kristen hanya berpedoman pada nats Matius 7:1 tanpa menyertakan Yohanes 7:24.

Yoh. 7:22-24  Jadi: Musa menetapkan supaya kamu bersunat sebenarnya sunat itu tidak berasal dari Musa, tetapi dari nenek moyang kita dan kamu menyunat orang pada hari Sabat!  23 Jikalau seorang menerima sunat pada hari Sabat, supaya jangan melanggar hukum Musa, mengapa kamu marah kepada-Ku, karena Aku menyembuhkan seluruh tubuh seorang manusia pada hari Sabat24 Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.”

Pada nats tersebut jelas bahwa Tuhan Yesus menghendaki orang Percaya untuk melakukan penghakiman (yang adil). Mungkin orang kan bertanya, bagaimana bentuk penghakiman yang adil itu? Apakah manusia dapat seadil-adilnya dalam penghakiman? Hal ini secara implicit (tidak langsung) penulis singgung diatas. Jika kita mau melakukan penghakiman yang adil maka kita jangan hanya mau menghakimi orang lain tetapi harus membuka diri juga untuk dihakimi orang lain dengan standar ukur yang sama. Hal ini juga disinggung oleh Tuhan Yesus di ayat 23. Mereka (orang-orang Yahudi) memperbolehkan Sunat di hari Sabat tetapi melarang (bahkan marah) Tuhan Yesus menyembuhkan di hari Sabat juga. Padahal seharusnya jika Sunat diperbolehkan (dengan standar aturan mereka akan hari Sabat) maka berbuat baik (menyembuhkan orang) lebih diperbolehkan lagi dengan pertimbangan/standar yang sama.

Selain itu, melakukan penghakiman yang ADIL tidak terlepas dari sifatnya yang OBJEKTIF. Melakukan penghakiman juga harus bersifat OBJEKTIF bukan SUBJEKTIF. Hal ini hanya dapat dilakukan jika berpedoman pada Alkitab (Firman Tuhan yang mahaadil). Gunakanlah standar Alkitab (Firman Tuhan – PB dan PL) dalam memberikan “penilaian atau “penghakiman” atas segala sesuatu. Sebagaimana fungsinya, Firman Tuhan memang bermanfaat untuk “mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16). Cukup satu alat ini maka akan bisa dipakai dalam memberi penilaian atau penghakiman akan “pengajaran (doktrin) yang menyimpang” juga “perilaku moral yang menyimpang”. Jika ada diketahui sesuatu yang salah (entah itu doktrin ataupun perilaku moral orang Percaya) maka HAKIMI lah hal itu atas dasar (poin-poin) pengajaran di dalam Alkitab. Lebih lanjut, 2 Tim. 4:2 mengatakan, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Yang salah menurut / berdasarkan apa? Berdasarkan pengajaran! Pengajaran siapa? Pengajaran Tuhan di dalam Alkitab. Bukan menurut pendapat kita pribadi. Jika menurut pribadi masing-masing maka sifatnya SUBJEKTIF. Jika dilakukan secara objektif maka penghakiman itu mengarah pada hal yang dapat dinilai. Hal ini berarti tidak boleh melakukan penghakiman berkaitan dengan yang tidak dapat dipastikan untuk dinilai (tidak terlihat) – seperti motivasi hati seseorang.

Terakhir, Menghakimi juga harus didasarkan atas KEBENARAN. Imamat 19:15 mengatakan, “Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran”. Motivasi awal yang harus ditanamkan dalam diri seseorang yang hendak menghakimi sesamanya adalah untuk melakukan/membela KEBENARAN. Segala sesuatu harus kita lakukan atas dasar kebenaran (2 Kor. 13:8). Jadi, jika kita ingin menghakimi sesame kita, lakukanlah itu murni untuk membela kebenaran, bukan urusan pribadi.

Jadi, Alkitab menghendaki orang Percaya menghakimi secara ADIL, OBJEKTIF dan atas pertimbangan KEBENARAN. Dan hal ini bisa saja menimbulkan perdebatan / diskusi / jajak pendapat. Hal ini tidak menjadi masalah karena Tuhan sendiri menyuruh kita menguji segala sesuatu sampai mendapatkan yang baik (benar) – (1 Tes. 5:21). Tanpa “penghakiman” tidak mungkin ada namanya “pengujian”. Seseorang menguji pasti melakukan “penghakiman”.

  1. Kesimpulan dan kata penutup

Alkitab sangat melarang orang Kristen lahirbaru untuk menghakimi JIKA mengandung unsur Munafik. Tetapi secara umum Alkitab sesungguhnya memperbolahkan bahkan mengharuskan orang Kristen lahirbaru untuk mencari kebenaran dan melakukan pengujian atas segala sesuatu, tentunya yang melibatkan tindakan “penghakiman”. Tetapi perlu diingat bahwa hal itu harus dilakukan secara ADIL, OBJEKTIF, dan di dalam KEBENARAN.

Maukah kita melakukan kehendak Tuhan? Carilah kebenaran Allah (Mat. 6:33) dengan cara menguji (1 Tes. 5:21) segala sesuatu (pengajaran) yang meng-claim sesuai dengan Alkitab dengan melakukan penghakiman yang adil dan tidak menolak (apalagi marah) jika ada orang lain “menegur” atau “menyatakan salah” kepada kita melalui standar kebenaran Alkitab. Orang yang bijak akan berterimakasih kepada orang yang sudah memberitahukan kepadanya kesalahannya dengan tujuan untuk diperbaiki. Dan, teman yang baik, akan dengan rela, tulus, jujur, dan berani memberitahukan temannya jika memang ada sesuatu yang tidak sesuai (salah) yang bahkan bisa membahayakannya. Justru teman itu menjadi tidak baik jika ia mengetahui sesamanya melakukan kesalahan yang membahayakan dirinya, lalu diam saja bahkan justru “mendukung” nya. Teman yang seperti itu adalah teman yang mencelakakan (Ams. 18:24).

Melalui tulisan ini penulis yakin Tuhan sedang mendorong hati anda untuk mencari tahu apa itu kebenaran Ilahi. Jika anda merasa demikian, lakukanlah ! jangan ditunda lagi !

Salam Kasih mahabesar Kristus. — Maranatha —

Referensi:

  • Steven Liauw, “Menghakimi atau Tidak Menghakimi”, file:///E:/Artikel%20Graphe/Menghakimi.pdf
  • Alkitab bahasa Yunani Textus Receptus (TR)
  • Bible works 7 – Lexicon
  • Alkitab Indonesia LAI TB

 

By : Ev. Supriyanto, S. Th (082254134845 / 088216038273)

Wilayah Pelayanan:  Magelang – Temanggung  – Jogjakarta – Purworejo / Kutoarjo dan sekitarnya.

[1] Allah ingin disembah oleh manusia atas kesadaran dan keputusan yang murni berasal dari manusia itu sendiri, maka itu Ia ciptakan manusia sebagai ‘pribadi’.

[2] Orang tidak bisa berani mengatakan perbuatan ini “jahat” atau perbuatan ini “baik” dan sebagainya.

[3] Penulis hanya menjawab beliau, “benar, bahwa saksi Yehovah sesat karena tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Tetapi pengajaran yang satu itu juga sesat karena juga tidak sesuai dengan Alkitab”. Beliau langsung terdiam dan berdalih sana-sini.

SEMINAR TERHEBAT TAHUN INI !!!

Mengapa HEBAT?
Kebutuhan paling vital bagi seluruh umat manusia adalah kebutuhan akan KESELAMATAN nyawanya (Jiwa).
SEMINAR ini akan menolong anda memperoleh kebutuhan itu.
Tidak hanya penting untuk dihadiri tetapi juga demi supaya semua orang bisa terjangkau untuk mengikuti TANPA TERKECUALI, maka SEMINAR ini diselenggarakan SECARA GRATISSSS !!

Seminar untuk semua orang Kristen dan setiap orang yang ingin mengetahui pengajaran kekritenan, khususnya mengenai jalan keselamatan. Apa yang dibahas? Apa benar ada Allah (Tuhan pencipta)? jika ada Allah maka Ia pasti berfirman. Benarkah Allah berfirman pada lebih dari satu kitab padahal di dalamnya berisi pernyataan yang bertentangan? Apakah Alkitab satu-satunya Firman Tuhan? Jika iya atau bukan, apa konsekuensi logisnya? Bagaimanakah jalan keselamatan yang benar menurut Alkitab? lalu bagaimana nasib umat manusia lain yang percaya pada kitab selain Alkitab? Apakah mereka akan dibawa ke Sorga juga? dan masih banyak hal lain lagi yang akan dibahas. ANDA BEBAS BERTANYA SAMPAI TERPUASKAN.
Jadi JANGAN sia-siakan kesempatan emas ini. Segera Registrasi by SMS or Phone demi keteraturan. Mumpung kesempatan masih tersedia. Ingat tempat TERBATAS.

 

 

supri

Nabi Palsu dinyatakan

23 Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. 24 Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. 25 Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. 26 Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya. 27 Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia. 28 Di mana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun.” (Mat 24:23-28)

Sebelum Tuhan kembali ke Sorga, Ia berpesan kepada murid-muridNya yang hadir di depanNya saat itu, dan tentu untuk murid-muridNya yang masih jauh di depan yaitu kita, bahwa akan muncul mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu. Semua murid Tuhan yang bijak harus waspada terhadap mesias palsu dan nabi palsu.

Apakah Arti Kata Mesias?
Saya sendiri tidak tahu apakah maksud Lembaga Alkitab Indonesia, yang kadang memakai kata Mesias dan kadang Kristus ketika menerjemahkan kata Cristo,j (Kristos). Sikap tidak konsisten LAI bisa menyebabkan orang berpikir bahwa tidak ada kristus palsu melainkan hanya ada mesias palsu. Padahal kata yang sama kadang mereka terjemahkan dengan kata mesias dan kadang kristus. Sesungguhnya kata mesias itu dari bahasa Ibrani sedangkan kata kristus itu bahasa Yunani, yang artinya adalah orang yang diurapi. Pengurapan itu sesungguhnya adalah semacam model pelantikan dari Allah, dan itu biasa dilakukan terhadap raja, nabi dan imam. Karena Sang Juruselamat sesungguhnya akan menjabat sebagai raja, imam dan nabi, maka kepadaNya juga dilekatkan sebutan Sang Mesias yang artinya orang yang diurapi. Sang Juruselamat ialah Allah Jehovah sendiri yang menjadi manusia dan akan terlahir dari keturunan Daud.

Oleh sebab itu pada saat Yesus Kristus hadir, siapapun yang berseru kepadaNya, “Kristus, Anak Daud,” dikatakan kepadanya bahwa imannya telah menyelamatkannya. Karena dengan seruan itu membuktikan bahwa yang bersangkutan percaya bahwa Ia adalah Sang Jurusel amat yang dijanjikan, dan bahwa Ia adalah pribadi yang diurapi atau Mesias dalam bahasa Ibrani dan Kristus dalam bahasa Yunani. Khusus bagi orang Yahudi yang memahami makna Kristus dalam PL, seruan itu merupakan pengakuan iman yang menyelamatkan. Bangsa lain yang tidak memahami kitab PL tentu memerlukan penjelasan yang lebih rinci tentang latar belakang akan kebutuhan pengiriman Juruselamat untuk memiliki iman yang menyelamatkan.

Ketika dalam kitab Daniel 9:25-26 menuliskan nubuatan yang sangat jelas tentang akhir zaman, dan tentang kedatangan seorang raja yang akan memulihkan segala sesuatu, maka semua orang beriman zaman itu tahu bahwa sebutan “orang yang diurapi” adalah sebutan khusus kepada Sang Juruselamat, bahkan Allah Jehovah sendiri yang akan datang sebagai keturunan Daud. Seluruh bangsa Israel yang membaca kitab Daniel menantikan amat sangat penggenapan nubuat tersebut. Sejak saat itu tentu tidak ada orang yang berani menyebut dirinya sebagai orang yang diurapi atau Mesias atau Kristus, karena orang tahu bahwa itu adalah sebutan untuk Sang Penyelamat atau Allah Jehovah sendiri. Seharusnya orang Kristen tahu bahwa Mesias, Kristus atau orang yang diurapi itu hanya satu, yaitu Yesus Kristus. Bagaimana boleh ada orang Kristen yang berani menyebut dirinya atau menyebut orang lain sebagai orang yang diurapi?

Mesias Palsu Di mana-mana
Kelompok Saksi Jehovah mengajarkan bahwa tujuh Dewan Pimpinan Pengendali mereka yang di Brooklyn, New York, adalah orang yang diurapi. Berarti mereka adalah mesias-mesias karena arti kata orang yang diurapi ialah mesias. Dan di kalangan sebagian gereja kini gencar dipakai istilah pengurapan, atau ungkapan “orang yang diurapi.” Mereka semua sedang menggenapi nubuatan terkutip di atas bahwa akan datang banyak mesias-mesias palsu. Hal demikian terjadi karena di kelompok kharismatik memang tidak ada orang yang terpelajar dan berpengetahuan cukup tentang theologi.

Pemimpin mereka biasanya berasal dari orang yang berkharisma, misalnya mantan pemimpin agama lain, orang yang pintar bicara, bahkan mantan dukun, oleh sebab itulah mereka disebut kharismatik. Bukan hanya terjadi pemakaian kata “pengurapan” yang sembarangan, bahkan banyak istilah lain juga semba-rangan dipergunakan, misalnya kepenuhan Roh Kudus, baptisan Roh Kudus dll. Tanpa mereka sadari ternyata mereka sedang menggenapi nubuatan tentang kehadiran penyesat-penyesat di akhir zaman.

Padahal istilah pengurapan telah Rasul Paulus jelaskan dalam II Kor.1:21-22 Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita. (II Kor. 1:21-22)

13 Di dalam Dia kamu juga karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu. (Ef 1:13) Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa pada saat seseorang percaya, maka Roh Kudus memeteraikannya menjadi milik Allah. Dan pada saat itu juga, yaitu pada saat Roh Kudus memeteraikannya, ia diurapi. Jadi, untuk zaman Perjanjian Baru, setiap orang yang percaya, lahir baru, adalah orang yang telah diurapi, karena telah diangkat menjadi imam (I Pet.2:9), bahkan menjadi anak Allah (Yoh.1:12).

Apakah Arti Kata Nabi?
Nabi, adalah orang yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan sesuatu kepada umatNya bahkan manusia. Dalam bahasa Ibrani (Nabi), aybiän” dalam bahasa Inggris prophet bisa diartikan sebagai jurubicara. Seorang nabi menerima pernyataan atau penyingkapan dari Allah (wahyu), dan menyampaikannya kepada publik. Seorang Nabi Allah tidak akan mengatakan apapun atas nama Allah jika Allah tidak menyingkapkan kepadanya sesuatu untuk dikatakan. Persis dengan jabatan jurubicara yang tidak akan menyampaikan apapun jika atasannya tidak menyatakan apapun kepadanya. Pernah ada suatu masa yang panjang, yaitu sekitar 400 tahun, dari Maleakhi sampai Yohanes Pembaptis, Allah tidak mengangkat nabi karena Allah tidak menyampaikan apapun kepada manusia. Masa itu oleh para theolog disebut the silent centuries.

Tentu tidak perlu ada orang bodoh yang menafsirkan bahwa Allah telah mati atau orang zaman itu membatasi Allah. Karena jika Allah tidak menurunkan wahyu tentu sama sekali bukan Allah menjadi bisu. Tritunggal Allah tentu memiliki komunikasi yang intens dan di Sorga juga ada banyak malaikat. Allah hanya tidak menurunkan wahyu atau berbicara kepada manusia, bukan tidak bicara pada pribadi Tritunggal lain atau malaikat.

Zaman Nabi Sudah Berhenti
Mulai dari zaman Yohanes Pembaptis sampai pada Rasul Yohanes di pulau Patmos adalah masa pewahyuan, dimana Allah menurunkan wahyu untuk menuntun manusia masuk ke dalam zaman ibadah hakekat rohaniah Perjanjian Baru. Pada zaman itu, sejak pewahyuan kepada Zakharia tentang kelahiran Yohanes Pembaptis sekitar tahun 1 AD, sampai pewahyuan terakhir kepada Rasul Yohanes di pulau Patmos sekitar tahun 98 AD, adalah masa Allah menurunkan wahyu kepada orang-orang percaya terutama para Rasul dan Nabi. Jadi para Nabi telah menuliskan kitab PL dan para Rasul telah menuliskan kitab PB, dan tulisan mereka sesungguhnya adalah fondasi jemaat dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru (Ef.2:19-20).

Setelah wahyu terakhir dituliskan, yaitu kitab Wahyu, maka selanjutnya Allah tidak menurunkan wahyu lagi. Proses pewahyuan ditutup agar Alkitab menjadi sebuah ukuran yang pasti atau kanon tertutup. Dan dengan demikian maka Alkitab adalah satu-satunya firman Allah.

Tentu bukan berarti Allah mati, atau menjadi bisu, melainkan hanya tidak berbicara atau mengungkapkan se-suatu kepada manusia. Keadaan demikian pernah terjadi pada rentang waktu dari Maleakhi sampai Zakharia, yang kurang lebih 400 tahun sebagaimana saya sebutkan di atas. Allah mau agar setiap manusia yang ingin mengenalNya dan mengetahui kehendakNya, membaca tulisan yang telah diilhamkanNya. Tentu bukan kita yang membatasi Allah melainkan Allah yang membatasi kita dalam mengenal DiriNya dan seluruh kehendak-Nya.Justru dengan bertindak membatasi firmanNya hanya pada Alkitab adalah demi keamanan kita. Allah mau kita hanya mengenalNya dari Alkitab agar kita tidak disesatkan. Sebab jika tidak dibatasi hanya pada Alkitab saja informasi tentang Allah, maka iblis akan mengacaukan kita dengan segala informasi palsu yang dimunculkannya.

Allah ingin kita hanya mengenalNya dari Alkitab, namun iblis ingin kita membuka diri terhadap segala informasi agar ia bisa intervensi. Jika Allah tidak membatasi firman-Nya, tentu akan muncul banyak orang yang berkata bahwa ia mendapat wahyu dan kemudian bernubuat. Siapakah yang bisa pasti bahwa orang tersebut betul-betul mendapat wahyu dari Allah, atau dari iblis atau dia hanya sembarangan ngoceh. Tuhan telah memilih Rasul-rasulNya, dan memberi bukti bahwa mereka berbicara atas namaNya dengan memberikan mereka kuasa melakukan mujizat (II Kor.12:-12). Ayat ini memberi kita kepastian bahwa yang mendapat karunia mela-kukan mujizat hanyalah Rasul saja.

Nabi Palsu Bermunculan

Sudah jelas bahwa Allah tidak turunkan wahyu sesudah pewahyuan sampai kitab Wahyu 22:21. Dan Alkitab adalah satu-satunya firman Allah untuk zaman sekarang. Di luar Alkitab tidak ada firman Allah. Namun kita sering bertemu dengan orang Kristen yang sambil mengaku Alkitab satu-satunya firman Allah sambil percaya nubuatan “pendetanya” adalah firman Allah. Ini fenomena aneh, karena logikanya saling bertentangan. Jika Alkitab satu-satunya firman Allah, maka tidak ada lagi proses pewahyuan sesudah Wahyu 22:21. Dan kalau masih ada nubuatan, maka Alkitab bukan satu-satunya firman Allah, melainkan salah satu.

Dan kalau Alkitab adalah salah satu firman Allah maka doktrin kekristenan bukan kebenaran melainkan salah satu pandangan (opini). Coba renungkan sebaik-baiknya. Janganlah seseorang memakai fenomena untuk menyimpulkan kebenaran, melainkan memakai kan Alkitab untuk menilai segala fenomena. Artinya jika sesuatu terjadi, atau seseorang bernubuat, maka kita harus simpulkan bahwa itu bukan berasal dari Allah karena sesudah kitab Wahyu 22:21 Allah tidak turunkan wahyu lagi. Pada saat pemilihan presiden yang lalu (21 Agustus 2014), banyak nabi palsu bernubuat. Mereka menubuatkan seorang calon akan memenangkan pemilu, bahkan sudah ternyata kalah pun tidak mau terima dan masih mengadakan kebaktian pengucapan syukur untuk kemenangan. Aneh! Kini, ketika buletin ini sedang ditulis, KPU telah menyatakan pemenangnya bahkan Mahkamah Konstitusi pun sudah memutuskan pemenang pemilu presiden RI. Dengan demikian nyatalah di hadapan kita semua nabi palsu itu.

Apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Ul. 18:22).

Berdasarkan ayat di atas, pada zaman PL jika ada orang yang bernubuat namun tidak ditepati, maka masyarakat akan merajamnya karena itu bukti bahwa yang bersangkutan adalah nabi palsu yang mencoba membohongi mereka. Namun saya dengar para nabi palsu di Indonesia tenang-tenang saja sekalipun nubuatan mereka tentang calon presiden pemenang gagal total.

Saya dengar bahwa mereka sama sekali tidak merasa malu, dan masih tetap banyak orang bodoh yang setia mendengarkan khotbah mereka. Lebih parah lagi menurut informasi yang saya dapat bahwa mereka rupanya adalah nabi bayaran. Ada yang memberi informasi bahwa calon presiden tertentu membayar mereka untuk bernubuat agar melalui nubuatan para nabi palsu pemilih Kristen yang beriman secara membabi buta bisa terpengaruh. Tentu saya langsung teringat pada Bileam, si nabi mata duitan, yang dibayar raja Balak untuk mengutuki Israel (Bil.22-24).

Sesungguhnya persoalan bukan pada para nabi palsu tetapi pada orang-orang yang di sekeliling mereka dan yang tertipu oleh mereka. Sudah pasti ada banyak orang yang tulus yang ingin diselamatkan oleh Injil, dan mendambakan kebenaran. Tetapi karena malas berpikir, kebanyakan mereka masuk perangkap para nabi palsu yang sangat hebat. Karena sedemikian hebatnya mereka memanfaatkan nama Yesus untuk mengeruk keuntungan, maka mereka bisa memiliki fasilitas yang hebat. Mereka bisa memiliki gedung yang megah, bahkan sanggup membayar tayangan televisi, sehingga semakin banyak orang yang terjebak.

Karena ada banyak orang yang malas berpikir dan malas membaca Alkitab, keberadaan nabi-nabi palsu akan semakin diterima, sehingga genaplah nubuatan Yesus Kristus bahwa mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul. Dan sesungguhnya mereka telah muncul dan ada di sekitar kita, bahkan melalui berbagai peristiwa, seperti dalam acara pemilihan presiden RI, keberadaan mereka telah dinyatakan. Bahkan Tuhan memakai kata-kata, “Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu” (Mat 24:25), untuk memperingatkan secara sangat keras kepada manusia. Jika pembaca masih menjadi bagian dari yang disesatkan, bahkan menjadi pengikut mesias palsu dan nabi palsu, berarti pembaca adalah orang yang sangat tidak peduli pada peringatan Tuhan.

Sumber: Jurnal Teologi PEDANG ROH Edisi 81 Oktober-Desember 2014, oleh Dr Suhento Liauw, Th.D

—20 tempat paling damai di dunia— ( Indonesia??)

Judul Asli : 20 Most Peaceful Countries in the World
Sumber Link : http://travel.amerikanki.com/most-peaceful-countries-in-the-world/?utm_source=taboola&utm_medium=referral&utm_campaign=taboola-travel

Apakah Anda tahu yang merupakan negara paling damai di dunia? Sejak tahun 2007 setiap tahun, Global Peace Index telah dikeluarkan oleh IEP (Institute for Economics and Peace) dan merupakan pengukuran negara dan daerah ‘kedamaian berdasarkan ukuran eksternal dan internal. Walaupun tampaknya seperti dunia ini menjadi lebih kejam, menurut Global Peace Index ada 20 negara paling damai di dunia

1. Denmark

Denmark2

Denmark puncak daftar negara yang paling damai di bumi karena itu benar-benar tempat yang aman untuk hidup. Bahkan ketika Kopenhagen, ibukota Denmark, berada di bawah pendudukan oleh Nazi selama Perang Dunia II, masih tidak melawan. Intinya adalah bahwa orang-orang yang tinggal di Denmark lebih memilih untuk fokus pada masalah ekonomi, bukan melibatkan diri dalam berbagai konflik bersenjata. Orang Denmark sangat ramah, terbuka dan membantu.
2. Norwegia

Norway2

Banyak orang tidak berharap Norwegia untuk muncul dalam daftar negara yang paling damai di dunia. Mungkin, ini adalah karena Anders Behring Breivik, pembunuh massal. Tentu, itu adalah kejadian luar biasa, tetapi menurut Global Peace Index Norwegia adalah salah satu negara paling damai di dunia dan tempat yang ramah dan aman untuk tinggal. Norwegia adalah negara dengan tingkat tertinggi dari pembangunan manusia di dunia, ditambah, pemerintah Oslo selalu menempatkan perdamaian di garis depan prioritas negara
3. Singapura

Singapore1

Sebagai anggota aktif dari masyarakat internasional dan, secara keseluruhan, sebuah negara kecil, Singapura tidak pernah dapat mengambil haknya untuk eksis dan keamanan untuk diberikan. Sejak mencapai kemerdekaannya pada tahun 1965 sebagai Republik yang berdaulat, Singapura selalu berkonsentrasi untuk menjadi tetangga yang besar, melalui pembentukan, damai, ekonomi, hubungan politik ramah sosial dengan semua negara.
Negara ini telah bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga pendukungnya pada berbagai macam upaya. Juga berpartisipasi dalam berbagai organisasi global, unilateral dan multilateral untuk mempromosikan kerjasama internasional, termasuk WTO (Organisasi Perdagangan Dunia). Singapura adalah salah satu negara paling damai di dunia serta salah satu negara terkaya di dunia. Pembunuhan dan tingkat kejahatan kekerasan lebih rendah dibandingkan tingkat kriminal
4. Slovenia

Sebuah negara Eropa yang indah, Slovenia juga salah satu negara paling damai di dunia. Negara ini mendapat nilai terendah dalam pendanaan untuk misi penjaga perdamaian PBB, jumlah polisi dan petugas keamanan, tingkat kriminalitas yang dirasakan dalam masyarakat, jumlah terorganisir konflik internal, protes keras, dan jumlah perang internal dan eksternal berjuang. Global Peace Index dan percaya bahwa Slovenia layak ditempatkan dalam daftar negara yang paling damai di bumi. Selain itu, dengan kota-kota yang indah seperti Maribor dan Ljubljana penuh dengan budaya yang unik, Slovenia adalah tujuan wisata yang fantastis
5. Swedia

Sweden1

Salah satu negara Skandinavia yang paling indah, Swedia terletak di ujung utara Eropa. Meskipun Swedia adalah salah satu eksportir senjata terbesar di Eropa, negara ini memiliki tingkat rendah dari perampokan (hanya 9.000 tahun) dibandingkan dengan Amerika Serikat (sekitar 350.000 per tahun)! Menurut Global Peace Index, Swedia adalah salah satu negara paling damai di dunia, terlepas dari fakta bahwa eksportir senjata top dunia. Selain itu, Swedia belum berperang dan tidak berpartisipasi dalam pertempuran untuk seluruh 2 abad
6. Islandia

Iceland1

Islandia juga peringkat sebagai salah satu negara paling damai di dunia, tinggal keluar dari konflik utama di dunia. Islandia jarang atau tidak pernah hits berita utama dan meskipun runtuhnya bank-bank Islandia beberapa tahun yang lalu, negara ini tetap sebagai sebuah tempat keindahan alam yang spektakuler. Wisatawan dari seluruh penjuru dunia datang ke Islandia untuk melihat gletser yang besar dan mengamuk gunung berapi, serta berbagai wisata alam dan budaya yang unik di Reykjavik, ibukota Islandia
7. Belgia

Belgium1

Menurut Global Peace Index, Belgia adalah salah satu yang terbaik dan paling damai tempat untuk tinggal di Eropa dan di Bumi. Terletak di jantung Eropa, negara kecil ini memiliki tempat khusus. Brussels, ibukota Belgia, adalah rumah bagi Uni Eropa dan NATO. Belgia membanggakan kota abad pertengahan, balai kota yang indah, istana megah, dan keindahan alam yang menawan. Tingkat pembunuhan dan pemenjaraan yang rendah di negeri ini, meskipun Belgia itu mengalami krisis dalam pemerintahnya selama periode 2008-2011
8. Czech Republic

Sebuah negara yang relatif baru, Republik Ceko merdeka dari Blok Soviet pada tahun 1993 karena Revolusi Velvet dan membagi selanjutnya dengan Slovakia. Setelah pembagian Cekoslowakia, Republik Ceko telah sebagian besar terkonsentrasi pada pembangunan ekonomi kapitalis yang kuat dan menciptakan iklim yang stabil untuk investasi. Pada tahun 2009, Indeks Pembangunan Manusia (HDI) peringkat Republik Ceko sebagai negara ‘Pembangunan Manusia Sangat Tinggi.’ Terkenal terutama untuk ibukota megah Praha dan keindahan alam yang menakjubkan, Republik Ceko menarik wisatawan dari seluruh dunia
9. Swiss
Switzerland1

Menurut IEP, Swiss mempertahankan pemerintahan yang berfungsi dengan baik dan budaya politik yang terbuka. Menggambarkan kualitas pemerintahan, Swiss menerima skor terendah untuk ketidakstabilan politik. Ini juga antara negara-negara paling damai di dunia yang memiliki tingkat rendah kejahatan kekerasan. Meskipun Swiss dikenal karena netralitas dalam isu-isu politik regional, internasional dan global, ia mempertahankan hubungan diplomatik yang kuat dengan berbagai negara di seluruh dunia
10. Jepang

Japan1

Salah satu negara yang paling mempesona budaya, Jepang memiliki perekonomian terbesar ketiga di dunia. Sejak Perang Dunia II, Jepang telah benar-benar damai, dengan sedikit konflik internal dan kejahatan yang rendah. Selain itu, negara mempertahankan hubungan baik dengan tetangga-tetangganya. Jepang tidak memiliki militer profesional sejak akhir Perang Dunia II. Negara ini mengendap pada pasukan keamanan internal untuk menjaga perdamaian.
11. Irlandia
Ireland2

Dengan situs yang kaya sejarah, padang rumput hijau yang luar biasa dan orang-orang yang ramah, itu tidak mengherankan bahwa Irlandia adalah salah satu negara paling damai di bumi.Namun, telah sedikit peningkatan konflik internal antara Protestan dan Katolik. Meskipun fakta ini, Irlandia adalah negara yang hebat secara keseluruhan dengan sejumlah alasan untuk pariwisata! Sejarahnya yang kaya sastra, bukit benteng-atasnya, pantai spektakuler dan keramahan legendaris membuat Irlandia tempat yang indah untuk dikunjungi setiap saat sepanjang tahun.
12. Finlandia

Finland2

Finlandia dianggap salah satu negara paling damai dan layak huni, yang tidak terkenal untuk alam agresif nya. Finlandia masih merupakan negara yang menganut layanan sipil dan militer wajib bagi orang-orang muda, dan hanya partisipasi negara dalam pertempuran telah sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB bersama. Ketika berbicara tentang Finlandia, saya ingin katakan tentang pendidikannya. Finlandia menempatkan pendidikan di jantung harfiah semuanya. Sistem pendidikan Finlandia berada di peringkat kelima terbaik di dunia
13. Selandia Baru

New-Zealand1

Setiap tahun sejak 2007, Institut Ekonomi dan Perdamaian telah peringkat Selandia Baru sebagai salah satu negara paling damai di dunia. Dengan persentase kecil dari populasi di penjara, kemampuan militer yang terbatas, hubungan yang kuat dengan Australia dan down-to-earth perhotelan, Selandia Baru adalah negeri yang indah untuk tinggal masuk Ini adalah negara keindahan alam, beragam pemandangan dan pribumi unik. Pengunjung dari seluruh dunia datang ke Selandia Baru untuk mengalami lanskap kasar, gletser alpine hati, pantai yang mengagumkan dan panas bumi fantastis dan aktivitas gunung berapi. Negara ini juga terkenal karena anggur yang halus dan ada sejumlah besar varietas anggur ditanam di seluruh Selandia Baru. Jadi jika Anda seorang kekasih anggur yang besar, Anda pasti harus mengunjungi Selandia Baru setidaknya sekali dalam hidup [/spoil
14. Kanada

Canada1

Memiliki salah satu standar terbaik hidup di dunia, Kanada juga merupakan salah satu negara yang paling damai di bumi. Kota ini memiliki populasi sekitar 33 juta orang, namun itu adalah negara terbesar kedua di dunia berdasarkan wilayah. Dengan bersih dan aman kota, pemandangan spektakuler dan orang-orang sangat ramah, Kanada adalah negara yang indah dan damai untuk tinggal masuk Pemogokan terbesar terhadap nilai perdamaian dari Kanada adalah bahwa ia memiliki kemampuan militer yang relatif tinggi, meskipun saat ini tidak terlibat dalam setiap konflik
15. Austria

Austria1

Austria adalah negara Eropa Tengah Selatan yang terkurung daratan kecil yang keuntungan tempat di daftar negara yang paling damai di dunia untuk sikapnya terhadap politik internasional. Sejak Perang Dunia I dan break-up dari Kekaisaran Austro-Hungaria dan Perang Dunia II, Austria telah konten untuk merangkul kehidupan damai dan ketenangan. Banyak orang mengklaim bahwa Austria adalah negara yang bagus untuk tinggal di dan saya secara pribadi setuju dengan mereka. Setelah semua, dengan terkenal di dunia resort di pegunungan Alpen hati, dan pusat-pusat kebudayaan megah seperti Wina, saya pikir itu tidak mengejutkan untuk melihat Austria dalam daftar ini
16. Bhutan

Bhutan

Menurut 2013 Global Peace Index (GPI), Bhutan juga di antara 20 negara paling damai di bumi. Intinya adalah, Bhutan tetap tidak berubah dalam konflik internasional dan domestik dalam 6 tahun terakhir dengan skor GPI 1,6 dari 5, 1 menjadi benar-benar rendah. Laporan ini menggunakan 22 indikator untuk mengukur kedamaian internal, termasuk jumlah polisi per 100.000 orang, tingkat kriminalitas yang dirasakan, tingkat kejahatan terorganisir, dan indikator perdamaian eksternal yang mencakup pengeluaran militer sebagai persentase dari produk domestik bruto dan kemampuan senjata nuklir dan berat. Saya pribadi berpikir orang Bhutan yang cinta damai dan mereka baik berbudaya. Plus, Bhutan menawarkan banyak atraksi spektakuler untuk semua orang.
17. Australia

Australia

Australia adalah negara yang indah dan damai yang menawarkan keragaman budaya, pantai yang spektakuler, banyak keindahan alam yang menakjubkan, fauna yang indah dan orang-orang yang ramah dengan rasa humor yang menakjubkan. Meskipun Australia adalah negara yang besar, kira-kira ukuran yang sama seperti Amerika Serikat, itu memiliki populasi kecil sekitar 20 juta, sehingga ada banyak ruang tak berpenghuni dikunjungi. Tingkat kejahatan yang rendah di Australia, sistem politik yang stabil, standar tinggi perawatan kesehatan dan jalan terpelihara dengan baik membuatnya menjadi negara yang aman dan relatif mudah untuk tinggal di atau hanya untuk mengeksplorasi
18. Portugal

Portugal

Anda mungkin akan terkejut untuk mengetahui bahwa Portugal adalah salah satu negara paling damai di dunia, tapi itu benar. Negara ini telah menjadi anggota Uni Eropa untuk sekitar 26 tahun dan itu merupakan bagian dari Sistem Moneter Eropa dan menggunakan mata uang tunggal Eropa. Portugal adalah ekonomi ke-43 terbesar di dunia menurut Bank Dunia dan memiliki salah satu yang tertinggi tingkat pertumbuhan GDP antara negara-negara OECD. Negara ini memiliki tingkat kejahatan yang rendah, standar besar hidup dan pemerintahan yang stabil. Plus, pantai berpasir yang menarik, dataran emas dan pegunungan yang mengesankan, warisan milenium dan kota-kota yang dinamis membuat Portugal salah satu tempat terbaik untuk tinggal masuk
19. Qatar

Qatar

Menurut Global Peace Index, Qatar adalah negara paling damai di Timur Tengah dan salah satu negara paling damai di dunia. Insiden kekerasan sangat jarang terjadi di negara ini dan tingkat kejahatan yang relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara industri lainnya. Qatar merupakan salah satu negara yang paling fleksibel dan liberal di Timur Tengah di mana perempuan memiliki banyak hak, termasuk bekerja, mengemudi dan hak suara. Negara ini mengalami transformasi di bawah Visi Nasional 2030 untuk mencapai diversifikasi ekonomi, berkelanjutan dan maju.
20. Mauritius

Mauritius

Menurut Laporan GPI 2013, Mauritius adalah salah satu negara paling damai di bumi dan juga peringkat negara paling damai di Afrika. negara pulau ini di GPI menyoroti stabilitas dari daerah dan dengan demikian semakin mempromosikan sebagai platform terpercaya untuk layanan wealth management dan perencanaan perumahan.

INDONESIA NEGARA TER- APA YA ?

Perlukah kepemilikan senjata api dilegalkan di Indonesia?

Kalo saja negara mengijinkan warga sipil memilki senjata api, FPI gak bakal berani bikin rusuh di DIY. Tidak akan ada catatan kelam pembantaian etnis tiongkok yang tak bersalah tahun 98. Tidak akan semarak terjadi kasus pemerkosaan pada kaum lemah (wanita). Tidak akan semarak terjadi perampokan + pembunuhan.

Sungguh negara yang jahat dan keji !!
Melanggar hak asasi manusia (HAM) yg paling dasar,,,Hak mempertahankan diri (hak hidup) !!

Pemerintah : “kan ada polisi (sebagai pihak berwenang pengayom dan pelindung masyarakat”

Ada satu ilustrasi kasus : sebut saja dia si mei mei, pada satu hari yg terang benderang, terdengar suara bergemuruh di luar pintu, ternyata ada kerusuhan besar. Si mei mei pun panik karena ia hanya seorang diri di kamarnya. Kebetulan tidak ada orang dirumahnya, hanya seorang diri. Dalam kepanikannya, ia berusaha mencari pertolongan. Karena sudah buntu ia akhirnyA menelepon 111 meminta bantuan. Namun, itu sudah terlambat, 5 menit setelah minta bantuan sekelompok massa tiba2 mendobrak pintu rumah mei-mei. Ia berlari untuk menghindar, mencari barang apa saja untuk mempertahankan diri. Pisau, golok, kayu, besi, dan sebagainya. Ya..(anda sudah bisa memikirkannya apa yang terjadi). Mei mei tak berdaya di hadapan sekelompok orang tersebut yg langsung memperkosanya, menyiksanya, dan membunuhnya.

Menurut anda siapa yg bertanggunga jawab?
Para pembunuh itu? Sudah pasti !!!

Namun yg lebih berasalah lagi pemerintah yg membatasi warganya untuk se-efektif mungkin untuk mempertahankan nyawanya. Kalo pun 5 menit setelah mei mei tlp 111 polisi lgsung datang, blm sempat polisi menbak, mei mei sudah habis diperkosa oleh mereka. (Tpi apakah ada sistem kepolisian di indonesia se- responsif itu?? I dont think so)

Bagaimana menurut anda?

Kalo pendapat ini masuk akal, adakah orang yg mau rela meperjuangkan kebebasan kepemilikan senjata di indonesia?

jadi, perlukah kepemilikan senjata api dilegalkan? menurut saya perlu.

Mengapa anjing bisa memahami manusia?

KOMPAS.com – Mengapa anjing bisa memahami manusia? Ilmuwan asal Hungaria mengungkap alasannya lewat penelitian terbarunya.

Menggunakan analisis Magnetic Resonance Imaging (MRI), ilmuwan itu menguak bahwa bagian otak yang berperan dalam pendengaran dan emosi pada manusia dan anjing sama.

Attila Andics dari ELTE University, Hungaria, melatih 11 anjing untuk tetap diam sehingga otaknya bisa dicitrakan dengan MRI.

Dengan MRI, Andics mengecek respon neurologis anjing pada 200 jenis suara yang membangkitkan emosi, mulai dari rengekan, tangisan, gonggongan, dan tawa.

Setelah melihat respon neurologis anjing, ilmuwan lalu menganalisis respon neurologis pada manusia dan membandingkannya.

Andics menemukan, saat mendengarkan suara manusia, bagian otak anjing yang teraktivasi sama dengan bagian otak manusia, yakni temporal pole, bagian paling depan dari lobus temporal otak.

“Kita tahu ada area-area suara pada otak manusia, area yang merespon suara manusia lebih kuat daripada tipe suara lain,” kata Andics.

“Lokasi yang teraktivasi pada otak anjing sama dengan yang kita temukan pada otak manusia. Fakta bahwa kita menemukan area ini pada anjing mengejutkan, ini pertama kalinya ditemukan pada non primata,” imbuhnya.

Selama ini, banyak orang memahami bahwa anjing bisa mengerti perasaan manusia dan pemelihara anjing yang baik bisa memahami emosi anjingnya.

“Tapi sekarang kita bisa memahami mengapa ini bisa terjadi,” ungkap Andics seperti dikutip BBC, Jumat (21/2/2014).

Meski anjing peka terhadap suara manusia, mereka lebih peka terhadap suara kawan sesama spesiesnya.

Ilmuwan juga menemukan bahwa anjing kurang bisa membedakan suara bising lingkungan dengan suara lainnya.

Sophie Scott dari Institut of Cognitive Neuroscience di University College London mengungkapkan, hasil riset semacam ini tak mengejutkan bila ditemukan pada primata, namun menarik ketika ditemukan pada anjing.

DITULIS UNTUK MENGENANG DITAHANNYA PIETERSZ PADA BULAN JANUARI 1569 DAN DIEKSEKUSI MATI PADA TONGGAK PENYIKSAAN TEPAT TANGGAL 26 FEBRUARI 1569.

DITULIS UNTUK MENGENANG DITAHANNYA PIETERSZ PADA BULAN JANUARI 1569 DAN DIEKSEKUSI MATI PADA TONGGAK PENYIKSAAN TEPAT TANGGAL 26 FEBRUARI 1569.

Dapatkan versi full dengan klik https://novsupriyanto93.wordpress.com/seri-cermin-para-martir/

—Bagaimana dahulu Jemaat “Buronan” (Ana baptis) Melakukan Kebaktian?—
Pieter Pieterz, Amsterdam, 1569 AD
Sejak awalnya orang-orang anabaptis harus melakukan pertemuan secara rahasia. Piter Pietersz, seorang pengusaha perahu tambang yang biasanya bergerak di sungai Amstel di Amsterdam, menawarkan perahunya sebagai tempat pertemuan. Orang-orang yang datang untuk kebaktian itu dapat bersikap seakan-akan sebagai penumpang-penumpang yang tidak bersalah. Meskipun demikian, pihak penguasa saat itu ( Kelompok Kristen yang setuju doktrin baptis bayi) tahu bahwa Pietersz adalah seorang anabaptis (anabaptis merupakan nama yang diberikan kepada kelompok Kristen yang meyakini bahwa baptisan harus dilakukan secara benar. Misalnya: orang yang dibaptis harus sudah diselamatkan, cara pembaptisannya harus diselamkan kedalam air. Konsekuensi pengajaran ini membawa kepada penentangan akan pelaksanaan ‘baptisan bayi’. Nama “anabaptis” ini diberikan oleh mereka yang mem-praktekan baptisan pada bayi. Artinya: Ana (Yunani: ulang) dan Baptis, berarti dapat diartikan kelompok “baptis-ulang”).
Hal ini diketahui karena Pietersz sengaja menolak membaptiskan bayinya, seperti pengajaran gereja para penguasa saat itu. Ia sengaja membawa bayinya yang baru saja lahir ke suatu tempat persembunyian di sebuah desa. Seseorang menduga, bahwa bidan yang menolong kelahiran bayi Pitersz melaporkan hilangnya bayi itu kepada penguasa sehingga para penguasa bisa mengetahui kondisi (yang tidak menggembirakan bagi mereka) tersebut. Para penguasa pun segera mencari dan menahan Pietersz.
Sejak penahanan pada bulan Januari 1569, ia segera disiksa, dihukum dan pada akhirnya dibunuh pada tonggak penyiksaan pada tanggal 26 Februari ditahun yang sama.
Berbagai cara telah ditempuh oleh kelompok ‘ana-baptis’ ini untuk dapat melakukan pertemuan rohani, tanpa diketahui oleh para penguasa. Mereka mengelola sebuah ‘gereja’ bawah tanah dengan kiat-kiat agar tidak diketahui penguasa. Augsburg adalah sebuah kota yang dihuni oleh cukup banyak kaum Anabaptis. Mereka memberi tumpangan dengan sukarela kepada anggota kelompok Anabaptis lain dari daerah sekitarnya, atau dari daerah-daerah yang jauh, selama berbulan-bulan. Tetapi ada kebiasaan yang unik dari mereka untuk menyembunyikan identitas asli sebagai Anabaptis kepada orang lain diluar Anabaptis. Setiap kali bertemu dengan orang baru yang mereka duga sebagai pengikut Anabaptis, mereka menyampaikan salam yang sederhana dan unik untuk membuktikan bahwa mereka mempunyai hubungan persaudaraan secara rohani, misalnya seperti jemaat gereja pada zaman dahulu yang menggunakan lambang ikan (Yunani: ikthus) untuk mengetahui sesama orang Kristen.
Kelompok Anabaptis melaksanakan pertemuan-pertemuan rohani (Kebaktian) ditempat-tempat yang tersembunyi, seperti: di sebuah perahu tambang, hutan, sebuah tempat penggilingan yang dibuat terpisah dari desa utama, bahkan bawah tanah. Para pemimpin mereka sering berpindah-pindah tempat persembunyian di loteng-loteng rumah dan lumbung-lumbung yang sederhana saja.
Hal ini tidak menyurutkan sama sekali iman dan semangat para anggotanya, malahan setiap hari makin bertambah. Tidak jarang juga, justru pengikut baru yang masuk ke kelompok mereka merupakan orang-orang bekas pengikut gereja para penguasa.
Prinsip mereka adalah gereja bukanlah bersifat fisik dan dapat dilihat. Tetapi gereja yang sejati adalah berbicara tentang apa yang bersifat rohaniah. Gereja berasal dari bahasa Yunani yaitu Ekklesia. Kata ini dipakai sejak dahulu kala untuk menunjuk kepada suatu perkumpulan. Sekelompok orang berkumpul disuatu tempat, itulah ekklesia. Gereja bukanlah tentang keadaan fisik (gedung), tetapi tentang perkumpulan rohani orang-orang yang sudah diselamatkan oleh karya penebusan sang Juruselamat, Yesus Kristus.
Gereja adalah tentang orang-orang yang sunguh-sungguh telah bertobat dan percaya (diselamatkan) Tuhan Yesus, mencintai kebenaran, bertekad mengikuti Firman Tuhan dibandingkan tradisi pengajaran manusia. Baptis bayi adalah berbicara tentang tradisi dan pengajaran gereja Roma Katolik yang salah. Tidak ada satu argumen yang berasaskan kepada Firman Tuhan (Alkitab) untuk mendukung baptisan bayi. Baptisan bayi bukanlah topik yang kecil, kuno, dan tidak penting. Memang perdebatan tentang doktrin yang satu ini sudah berlangsung selama ratusan bahkan ribuan tahun. Banyak orang masa kini, yang sengaja ingin lari dari kebenaran, mengatakan, “permasalahan ini sudah sangat kuno, dan sejak dahulu tidak pernah selesai, jadi untuk apa kita mengulangnya lagi?”. Ya, memang belum selesai, dan tidak akan pernah selesai, dan ketemu titik terangnya jika dua hal yang sudah jelas-jelas bertentangan “dipaksakan” untuk bersatu dan yang sudah jelas-jelas menyimpang masih terus dipraktekkan. Di sebuah gereja protestan yang dahulu saya pernah berjemaat disana, mempraktekkan baptisan bayi sekaligus baptisan orang dewasa yang “percaya”. Apakah pengajaran maupun praktek baptisan bayi itu Alkitabiah?
Firman Tuhan dengan jelas hanya berbicara, mendukung, dan melaksanakan baptisan hanya kepada orang yang sudah percaya (diselamatkan) dan tidak ada satu ayat pun di Alkitab yang mendukung pengajaran baptisan bayi apalagi prakteknya. Berikut pernyataan-pernyataan Alkitab tentang baptisan:
a. Baptisan adalah tanda pertobatan, ( Matius 3:11). Apakah bayi dapat bertobat?
b. Baptisan hanya boleh dilakukan atas orang yang telah percaya ( Kis 8:36-37) (Apakah bayi dapat percaya?
c. Baptisan tidak boleh dilakukan pada bayi, ataupun orang yang belum paham Injil (belum diselamatkan). —- (pernyataan saya)—-
d. Dibaptis untuk menjadi murid Tuhan Yesus (Mat.28:19-20). Apakah bayi dapat menjadi murid?
e. Baptisan adalah harus dimasukan kedalam Air, sesuai dengan arti kata baptisan: Baptizo dan juga simbol yang digambarkan dalam Roma 6:1-4:
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.
Seseorang yang telah dibaptis menggambarkan kematian, dikuburkan, dan dibangkitkan bersama Yesus.
Lalu, bayi yang dipercik-percik air menggambarkan apa??? Menggambarkan apapun terserah, yang jelas tidak menggambarkan kematian, dikuburkan, dan dibangkitkan bersama Yesus.
f. Baptisan yang tidak benar, tidak dihitung sebagai baptisan dan harus di “ulangi” ( Kis 19:1-5)

Tentu masih banyak lagi ayat Firman Tuhan yang dengan jelas tidak mendukung sama sekali baptisan bayi. Namun, dari beberapa ayat diatas saja sudah mengajarkan kita bahwa baptisan kepada bayi itu salah total.
Lalu, bagaimanakah Baptisan yang Alkitabiah itu? Ada tiga hal yang harus dipenuhi:
1. Orangnya harus benar. Hanya orang-orang yang sudah dibenarkan/diselamatkan dalam Yesus Kristus saja yang boleh dibaptis (Kis8:36-37).
2. Caranya harus benar. Tidak ada cara lain yang benar selain dengan cara diselamkan. Cara lain, misalnya dipercik atau kibar bendera dan lain sebagainya? Tidak boleh. Karena itu semua akan menghilangkan makna dibalik upaca pembaptisan yang Tuhan perintahkan (Sudah dijelaskan sebelumnya).
3. Dilakukan oleh institusi yang benar. Dalam hal ini Gereja/Jemaat yang melaksanakan pembaptisan haruslah jemaat yang benar. Benar dalam hal doktrinal. Alasannya? Awalnya saya cukup kaget mendengar argumen ini namun setelah menyelidiki dan membandingkan sendiri dengan Alkitab saya telah yakin. Untuk membantu anda lebih banyak, Saya sarankan anda membaca buku karangan Dr. Suhento Liauw (yang sudah saya baca berulangkali dan diyakinkan oleh argumen beliau) yang berjudul “Sudahkah anda menerima baptisan yang Alkitabiah” untuk informasi selengkapnya kunjungi situs di http://www.graphe-ministry.org. Anda akan mendapatkan penjelasan yang lebih komplit di dalam buku tersebut.

—Argumen-argumen PAEDOBAPTIS (pendukung baptisan bayi) dan jawaban Alkitab—

1. kalo memang orang yang dibaptis harus “orang yang sudah percaya”, berarti Yesus sebelum dibaptis bukan orang percaya.
Jawab:
Jelas Dia adalah seorang yang percaya. Percaya kepada diri-Nya sendiri bahwa Dialah Mesias dan Juruselamat untuk menanggung dosa seluruh Dunia. Pembaptisan atas diri Yesus Kristus juga sebagai penggambaran akan mati, dikuburkan, dan dibangkitkan yang akan terjadi atas diri-Nya.
2. “Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 19:13-14)
Kelompok pembaptis bayi pernah memakai ayat ini untuk mengatakan bahwa Alkitab mengajarkan praktek baptisan kepada anak-anak. Biasanya sambungan dari ini mereka ingin berkata bahwa bayi yang lahir (karena kturunan Adam) memiliki dosa “keturunan” sehingga perlu dibaptis untuk menjadi milik Tuhan dan mendapat kepastian masuk sorga.
Jawab:
Terlihat jelas bagaimana mereka telah sedemikian tidak ada cara mencari jalan keluar dari kesesatan praktek baptisan bayi sehingga sembarangan saja mengutip dan menafsir ayat Alkitab.
a. Tidak ada indikasi sama sekali anak-anak yang datang kepada Yesus itu dibaptis oleh Yesus. Ini hanyalah kayalan belaka saja. Jelas dikatakan di ayat tersebut, orang tua dari anak-anak itu hanyalah meminta Yesus memberkati anak-anak mereka bukan supaya dibaptis.
b. Mengenai topik dosa “keturunan” pendapat saya:
Perlu diluruskan kurang tepat istilah dosa waris. yang tepat kita berdosa oleh karena Adam secara Posisi (posisional) dihadapan Allah Bapa. Tetapi itu sudah dibayar lunas oleh Yesus Kristus. Silahkan Roma 5:12-19 (oleh dosa Adam semua manusia keturunannya mewarisi sifat dosa sehingga kecenderungan hatinya ingin berbuat dosa dan posisi manusia yang berdosa. Tetapi oleh perbuatan Yesus Kristus semua itu telah diabyar lunas sehingga semua keturunan Adam yang lahir (yang belum akil balik) hutang dosa karena Adam sudah dibayar lunas).
Jadi, jelas Tuhan mengatakan bahwa anak-anak memang empunya kerajaan sorga. Mereka sudah dipastikan memiliki sorga apabila meninggal saat anak-anak (belum akil balik) apalagi saat bayi, tidak peduli dia anak siapa (ntah anak orang baik atau anak orang jahat).
Tetapi berbeda dengan keturunan Adam yang sudah akil balik, dan melakukan dosa atas kesadaran dirinya, maka ia memilki hutang dosa, bukan lagi karena Adam tetapi karena dirinya sendiri. Orang demikian harus melunasi hutangnya di dalam Yesus Kristus (Bertobat dan percaya Yesus). Bertobat artinya seseorang harus mengakui diri seorang yang berdosa dihadapan Tuhan, lalu ia menyesali dosanya itu dan beretekad untuk berbalik ke jalan Tuhan. percaya artinya : mengaminkan dengan segenap hati bahwa yesus Kristus sudah dihukumkan bagi semua dosa dia (dulu,sekarang, sampai kepada dosa yang terakhir), dan bersedia hidup bagi Yesus (Gal 2:20).
c. Kebanyakan mereka memang tidak akan sampai kepada kesimpulan baptisa bayi itu menyimpang dari alkitab karena memang dalam menyelidiki dan menafsirkan Alkitab telah terprinsip dulu konsep pengajaran yang telah dipegangnya. Ketika dalam konsep mereka tersimpan bahwa seseorang perlu dibaptis untuk masuk sorga maka dalam melihat konteks Matius 19:13-14 mereka menafsir “anak-anak” dalam ayat tersebut pasti dibaptis karena tidak mungkin mereka menjadi milik kepunyaan Sorga kalau belum dibaptis. Ingat, bahwa seseorang hanya akan mendapat kepastian masuk Sorga jika dan jika hanya Bertobat dan Percaya kepada Yesus Kristus. Kalau perlu ditambah baptisan maka pengorbanan Yesus Kristus bukan menjadi satu-satunya jalan menuju Bapa tetapi ada jalan tambahan yaitu melalui “pendeta” yang membaptis. Untuk lebih lengkap akan hal ini saya sarankan anda membaca buku dengan judul “Doktrin keselamatan Alkitabiah” atau “kapan saja saya mati, saya pasti masuk Sorga”. Info dan keterangan di http://www.graphe-ministry.org .
intinya tentang baptisan: Yohanes Pembaptis memberi syarat kepada mereka yang akan dibaptis agar sudah bertobat, beriman, melakukan pengakuan dosa dan hidup di dalam kehidupan yang benar (Mat. 3: 2; Kis. 19: 4). Yesus melakukan pemuridan terlebih dahulu dan kemudian membaptis mereka (Yoh. 4: 1), dan memberikan perintah khusus bahwa pengajaran harus mendahului baptisan (Mat. 28: 19). Di dalam pengajaran para rasul, pertobatan mendahului baptisan (Kis. 2: 38); para petobat dipenuhi dengan sukacita, dan hanya orang dewasa saja (laki-laki maupun wanita) yang dibaptis (Kis. 8: 6, 8, 12). Tidak ada catatan atau kesimpulan yang mengimplikasikan bahwa baptisan bayi dilakukan oleh Yesus maupun rasul-rasulnya.

Ini secara umum diakui oleh para ahli.

Dollinger, seorang ahli Katolik, Profesor di bidang Sejarah Gereja di Universitas Munich, mengatakan: “Tidak ada bukti atau tanda-tanda di dalam Perjanjian Baru bahwa para rasul membaptis bayi atau memerintahkan bayi-bayi dibaptis” (John Joseph Ignatius Dollinger, The First Age of the Church, II, 184).

Dr. Edmund de Pressence, seorang Senator Perancis dan Protestan mengatakan: “Tidak ada fakta positif yang mendukung praktek (baptisan bayi) yang dapat dikemukakan dari Perjanjian baru; bukti-bukti sejarah yang dinyatakan tidak meyakinkan” (Pressence, Early Years of Christianity, 376, London, 1870).
Banyak penulis buku yang membahas baptisan bayi akan langsung menegaskan bahwa hal tersebut tidak disebutkan di dalam Perjanjian Baru. Disini hanya akan dikutip salah satu penulis tersebut. Joh. W.F. Hofling, seorang Profesor Theologi Lutheran di Erlangen mengatakan: “Kitab Suci tidak memberikan bukti sejarah bahwa kanak-kanak dibaptis oleh para rasul” (Hofling, Das Sakrament der Taufe, 99, Erlangen, 1846, 2 vol.).

Sedikit sekali ahli pada masa kini yang akan keliru mengenai masalah ini. “Encyclopedia of Religion and Ethics” yang diedit oleh Profesor James Hastings dan Profesor Kirsopp Lake dari Universitas Leyden mengatakan: “Tidak ada indikasi baptisan bayi di dalam Perjanjian Baru”.

“Real Encyklopadia fur Protestantiche Theologie und Kirche” (XIX, 403, edisi ketiga), ensiklopedi Jerman yang hebat, mengatakan: Praktek baptisan bayi tidak dapat dibuktikan pada masa kerasulan dan sesudah kerasulan. Kita memang sering mendengar tentang baptisan seisi rumah, seperti di dalam Kis. 16: 34; 18: 8; 1 Kor. 1: 16. Namun perikop terakhir yang dikutip, 1 Kor. 7: 14, tidak mendukung anggapan bahwa baptisan bayi adalah suatu kebiasaan pada masa itu. Karena jika memang demikian tidak mungkin Paulus kemudian menulis “Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar”.
Kepala Sekolah Robert Rainy, New College, Edinburgh, seorang Presbyterian, mengatakan: Baptisan mensyaratkan beberapa perintah Kristen, dan didahului dengan puasa. Ia menandakan pengampunan dosa masa lalu, dan merupakan titik balik kehidupan baru di dalam Kekristenan dan dengan inspirasi tujuan dan maksud Kristen. Ia merupakan ‘meterai’ seseorang yang tidak akan diganggu-gugat (Rainy, Ancient Catholic Church, 75).

Bentuk baptisan adalah masuk ke dalam air, atau menyelam ke dalam air. Yohanes membaptis di sungai Yordan (Mrk. 1: 5); dan ia membaptis di Ainon, dekat Salim “sebab disitu banyak air” (Yoh. 3: 23). Yesus dibaptis di sungai Yordan (Mrk. 1: 9), dan Ia “masuk ke dalam air” dan “keluar dari air” (Mat. 3: 16). Perikop-perikop simbolis (Rom. 6: 3, 4; Kol. 2: 12), yang menggambarkan baptisan sebagai sebuah penguburan dan kebangkitan yang dengan jelas menyatakan bahwa cara selam merupakan pelaksanaan baptisan Perjanjian Baru.

Istilah ini memang merupakan makna perkataan Yunani baptizein. Perkataan tersebut didefinisikan oleh Liddell dan Scott, yakni kosa kata sekuler Yunani yang digunakan di semua sekolah tinggi dan universitas, sebagai “menyelam atau di bawah air”. Seluruh pakar menyetujui pandangan ini. Prof. R.C. Jebb, Litt. D., University of Cambridge, mengatakan: “Saya tidak tahu apakah ada yang mempunyai wewenang dalam kosa kata Yunani-Inggris yang mengubah kata tersebut menjadi bermakna ‘memercik’ atau ‘menetes/mencurah/menuang’. Saya hanya bisa mengatakan bahwa pengertian tersebut bukan berasal dari kata tersebut di dalam kesusasteraan Yunani” (Letter to the Author, 23 September, 1898). Dr. Adolf Harnack, University of Berlin, mengatakan: “Tidak diragukan bahwa baptisan berarti selam. Tidak ditemukan bukti bahwa kata tersebut mempunyai arti yang lain di dalam Perjanjian Baru dan di dalam kepustakaan Kristen yang paling lamapun” (Schaff, The Teaching of the Twelve, 50).

Dr. Dosker, Profesor Sejarah Gereja dari Presbyterian Theological Seminary, Louisville, mengatakan: Setiap sejarawan yang tulus akan mengakui bahwa kaum Baptis memiliki argumentasi yang lebih bagus, baik secara ketatabahasaan maupun sejarah mengenai bentuk baptisan yang berlaku. Kata baptizo berarti menyelam, baik di dalam kesusasteraan Yunani maupun dalam Alkitab bahasa Yunani, kecuali jika secara nyata menunjukkan pemakaian yang berubah makna (Dosker, The Dutch Anabaptists, 176, Philadelphia, 1921).

Sudah jelas tidak Alkitabiah, tetapi masih saja dipraktekkan. Bahkan mayoritas gereja dan denominasi kekristenan melakukan ini. Mengapa bisa demikian?

1. Tentu dibalik semua ini adalah peranan Iblis yang sedemikian menghancurkan doktrin gereja kekristenan sehingga merambat ke doktrin utama kekristenan (Keselamatan). Dengan demikian banyak manusia akan binasa dan menemaninya di Neraka.
2. Cara yang tidak patut yang ditempuh oleh kelompok pembaptis bayi (Baik katolik maupun kelompok Reformasi yang setuju baptis bayi). Mereka yang telah sedemikian menganiaya, membunuh, mencaci, merampas, mengolok, mengusir, menculik, menyiksa kelompok-kelompok “bawah tanah”, Anabaptis. Seperti perkataan: “We Forgive but never Forget”, demikianlah kami sebagai generasi kaum “Anabaptis” berkata kepada mereka yang telah sedemikian menganiaya, membunuh, mencaci, merampas, mengolok, mengusir, menculik, menyiksa “bapak-bapak” rohani kami. Sebenarnya, sejaka dulu kelompok “Kristen” baptis bayi sudah terbukti tidak punya argumen sama sekali mempertahankan prakteknya kecuali hanya tradisi belaka. Tidak ada cara lain yang mereka tempuh, karena tidak mau taat kepada kebenaran Firman Tuhan, mereka melakukan tindakan yang tidak mencerminkan pengikut Kristus sejati. Bukan hanya secara eksternal mereka melakukan tindakan kejahatan, lebih berbahaya lagi secara internal. Para pemimpin mengisolasi pengikut atau jemaat mereka untuk mengejar kebenaran. Mereka dilarang membaca Alkitab, mengikuti suatu pengajaran diluar katolik, tidak boleh menafsir Alkitab berdasarkan pengertian sendiri, tetapi harus didasarkan apa yang mereka sebut sebagai “Paus”. Cara ini sedemikian ampuh sehingga setidaknya dapat membendung tindak tanduk dari kelompok Alkitabiah yang gencar memberitakan Firman Tuhan. Kalau mereka mau bertindak fair terhadap ajaran denominasi lain yang berseberangan dengan mereka, sudah dipastikan mereka akan sepi pingikut. Tapi nyatanya memang Iblis benar-benar memakai mereka sebagai alat untuk menindas kebenaran.
3. Sikap kompromi yang ditunjukkan oleh pelopor Reformasi juga sangat berdampak besar. Martin Luther secara umum dikenal sebagai pelopor gerakan reformasi pada abad 16 AD. Sebenarnya, sebelum dia sudah begitu banyak orang yang berusaha memisahkan diri dari gereja Katolik dan “memprotes” pengajaran mereka dan luarbiasanya mereka tidak mengambil langkah kompromi. Misalnya: Seabad sebelumnya Luther sudah didahului oleh Jan Hus dari Bohemia, dan pada abad ke-14 seorang sarjana Inggris John Wycliffe, malahan di abad ke-12 seorang Perancis bernama Peter Waldo dapat dianggap seorang Protestan pertama. Tetapi, pengaruh para pendahulu Martin Luther itu dalam gerakannya cuma punya daya cakup lokal. Tidak mendapat dukungan yang signifikan sehingga tidak berpengaruh cukup luas dan (kita tahu ceritanya) mereka tetap tidak bisa bertindak bebas. Sejarah mencatat salah satu hal yang ditentang oleh Martin Luther mengenai pengajaran Katolik adalah mengenai baptisan bayi. Ia sangat tahu bahwa Alkitab tidak mendukung sama sekali praktek baptisan bayi. Ia, setelah sedemikian membaca Alkitab menyimpulkan bahwa baptisa hanya untuk orang yang sudah mampu percaya kepada Yesus Kristus. Ia kemudian dikejar-kejar oleh Katolik untuk ditangkap dan dibunuh. Singkat cerita, Luther meminta perlindungan dari raja Jerman. Raja Jerman bersedia menolong dia dengan satu syarat semua bayi warga negaranya yang lahir wajib di baptis di gereja yang digembalakan oleh Martin Luther. Satu langkah yang amat disayangkan diperbuat oleh Luther (mungkin sudah buntu tidak tahu mau lari kemana lagi dari kejaran Katolik yang cukup berkuasa di Eropa saat itu), adalah dengan menyetujui syarat itu meskipun bertentangan dengan pemahamannya sendiri. Akhirnya, Luther dengan sangat terpaksa melakukan kompromi untuk satu doktrin yang tidak kecil ini. Mengapa saya katakan TIDAK kecil?
Apa yang terjadi pada masa sekarang di Eropa (Secara khusus adalah Jerman) bisa ditarik dari jaman dimana Luther berkompromi.
Dalam dunia Teologi, Jerman sudah terkenal akan tokoh-tokoh Liberal-nya yang sangat berpengaruh di dunia kekristenan. Kelompok Kristen Liberal adalah kelompok yang mengaku “Kristen” namun dalam pengajarannya selalu menyerang fondasi Iman kekristenan yaitu Alkitab. Mereka meng-kritik habis-habisan Alkitab dengan mengatakan bahwa:
* Cerita-cerita di dalam Alkitab ( misal: tentang Yunus, Musa di Mesir, dll) sebagai cerita fiktif dan mitos masyarakat jaman itu saja, yang kebenaranya hanya sebagian, namun ditambahkan oleh penulis Alkitab di kemudian hari.
* Para Nabi, Raja dan Rasul yang menulis Alkitab bukanlah penulis sebenarnya melainkan orang lain yang “misterius”. Misalnya: Musa sebenarnya bukanlah penulis Taurat melainkan orang lain yang tidak diketahui namanya siapa, Matius bukanlah penulis asli Injil matius, dll.
*Tidak percaya bahwa Allah menginspirasikan dalam penulisan Alkitab dan memelihara (preservasi) itu sepanjang jaman. Dengan demikian menyatakan bahwa Alkitab hanyalah buku biasa, murni buatan tangan manusia tentang sejarah, boleh percaya boleh tidak.
Praktek baptisan bayi menghasilkan orang-orang Kristen yang menjadi anggota suatu gereja namun belum sungguh-sungguh lahir baru. Dari situ, menghasilkan orang-orang Kristen yang tidak peduli, mencari, dan mencintai kebenaran. Kemudian, melahirkan orang-orang Kristen Liberal dan Pluralis (mengatakan bahwa semua agama sama saja, ujung-ujungnnya akan menuju Tuhan yang sama). Dan kini telah menghancurkan individu-individu di Eropa secara menyeluruh. Demi menyelamatkan nyawanya yang sebenarnya bersifat sementara saja, ia rela melakukan kompromi dengan doktrin yang sangat banyak membawa orang menuju kebinasaan kekal. Sungguh tindakan yang fatal.
Saya (secara pribadi) percaya Luther adalah seorang yang beriman kepada Yesus Kristus dengan benar. Saya yakin dia berada di Surga pada saat ini. Puji Syukur dia dipakai oleh Tuhan untuk mereformasi. Dia memang seorang yang berani dan tangguh. Namun, memang protesnya masih kepalang tanggun hanya 95 hal. Ia mungkin, hanya melihat kesalahan GRK pada sisi sang “Paus” dan tidak melihatnya secara keseluruhan memang sudah salah. Andaikan ia mau bergabung dengan kelompok Anabaptis maka kelompok Protestan masa kini tidak akan membawa sisa-sisa kesalahan Gereja Katolik. Misalnya tentang: Perjamuan “kudus”, baptisan bayi, baptisan percik, perayaan natal, pengakuan iman “rasuli”, dan lain sebagainya.

Zwingli, seorang yang terkenal sangat ahli dalam bahasa Yunani di jamannya, memungkiri sendiri kemampuannya berbahasa Yunani. Salah seorang muridnya, bernama Felix Manz mencoba memberitahu dia akan kesalahannya
Salah satu yang ditentang felix manz adalah konsep baptisan bayi dan baptisan dapat menyelamatkan jiwa. Bagi Manz baptisan adalah tanda pertobatan dan tidak memiliki andil sedikitpun pada keselamatan. Menurutnya, baptisan bayi tidak alkitabiah, sehingga setelah dewasa dan percaya kepada Yesus maka mereka harus dibaptis ulang.

Oleh karena pendapatnya dianggap menyimpang oleh gereja Protestan yang dipimpin oleh Zwingli, maka selama hidupnya dia menderita penganiayaan hebat dan seringkali keluar masuk penjara. Pada tahun 1526, ia telah dijatuhi hukuman penjara di mana ia makan roti dan minum air sampai ia akan “mati dan membusuk”.

Jam 3 sore pada tanggal 5 Januari 1527, dia dibawa terikat dari penjara terakhir untuk ditenggelamkan di sungai Limnat yang dingin, sebagai “hukuman penghinaan” bagi golongan baptis ulang (anabaptis) dan menerima baptisan ketiga kali, yaitu ditenggelamkan di sungai Limnat.

Pada perjalanan menuju tempat eksekusi ia terus memberitakan Injil. Dan ketika melewati depan rumahnya, ibunya berteriak-teriak memberikan dukungan agar Felix Manz tidak menyangkali imannya.

Kaki dan tangan diikat kayu dan mulai ditenggelamkan. Sesaat sebelum ditenggelamkan, ia berseru “Ke tangan-Mu ya Tuhan, aku serahkan nyawaku.”

Note: Cerita diambil dari buku “Cermin para MARTIR (Mirror of the MARTYRS)” karangan John S. Oyer dan Robert S. Kreider
cermin para martir_cover

link Refrensi: http://www.gbia-filadelfia.org/articles/26/felix-manz.html , http://kristenfundamental.blogspot.com/2008/11/sejarah-baptis-baptists-history.html,